Letnan Batalyon Brigade Golani IDF Ini Tewas di Perang, Hartanya di Markas Dirampok Teman Sendiri 

Letnan Batalyon Brigade Golani IDF Ini Tewas di Perang, Hartanya di Markas Dirampok Teman Sendiri 

Letnan Batalyon 51 Brigade Golani IDF Ini Tewas di Perang, Hartanya di Markas Dirampok Teman Sendiri Seorang tentara Israel (IDF) dilaporkan mencuri barang milik rekan rekannya saat para pasukan Israel sibuk berperang di Jalur Gaza. Menurut stasiun radio Reshet Bet Israel pada Kamis (4/1/2024), insiden pencurian tersebut terjadi pada 11 Oktober, empat hari setelah Operasi Banjir Al Aqsa oleh Hamas dan agresi Israel di Jalur Gaza.

Menurut rincian laporan itu, tersangka tentara IDF itu menyusup ke sebuah kontainer di pangkalan militer di selatan lalu mencuri barang barang sejawatnya yang sedang pergi berperang ke Gaza. Stasiun radio tersebut menjelaskan, selain mencuri peralatan dan perlengkapan militer yang ada di dalam kontainer, ia juga mencuri komputer pribadi seorang letnan di Batalyon 51 Brigade Golani, satu di antara brigade elite tentara Israel. Sang letnan itu adalah Omer Wolf, dia tewas dalam pertempuran pada tanggal 7 Oktober.

Setelah keluarga Wolf melapor, polisi militer membuka penyelidikan atas insiden tersebut dan menemukan komputer di rumah tentara IDF tersebut. Alumni Unhas: Maklumat Rektor Adalah Pengkhianatan Intelektual Survei Capres 2024 Terbaru Hari Ini, Elektabilitas Paslon Terkuat Naik Lagi Jelang Pemungutan Suara

BIGMATCH Arsenal Vs Liverpool, Jurgen Klopp Bocorkan Kondisi Mo Salah ke Emirates Keputusan Transfer Kylian Mbappe, Luis Enrique Ungkap Kabar Terbaru, Bukan ke Liverpool atau Madrid Calon Pemenang Pilpres 2024 Mulai Terlihat Jelang Pencoblosan, 6 Hasil Survei Elektabilitas Terbaru Halaman all

Kunci Jawaban PAI Kelas 11 SMA Halaman 170 Semester 2 Kurikulum Merdeka, Bab 5 Penilaian Pengetahuan Hasil Survei Capres 2024 Terbaru Elektabilitas Ganjar di Jawa Tengah yang Dipepet Prabowo Nasib Nagita Slavina Dipenjarakan Ayah Kandung, Gideon Kantongi Bukti dan Saksi, Raffi: Doakan Saja Halaman 4

Jaksa militer mengadili tentara tersebut, mendakwanya melakukan pencurian dan berperilaku tidak pantas. Menurut stasiun radio tersebut, walau pelanggaran sang tentara IDF ini terbilang serius karena dengan sengaja mencuri peralatan dari kontainer IDF , Pengadilan Militer di Distrik Selatan menjatuhkan hukuman ringan bagi prajurit tersebut. Hukuman yang diterima termasuk hukuman penjara tiga bulan, penurunan pangkat hingga pangkat, dan memberikan kompensasi finansial kepada keluarga Wolf sebesar 2.000 shekel (sekitar $550).

Jaksa Militer mengajukan banding atas hukuman tersebut dan menuntut agar hukuman penjara digandakan menjadi setidaknya enam bulan. Penuntut menyatakan, komputer pribadi Kapten Wolf tetap menjadi milik terdakwa selama lebih dari dua minggu. Jaksa menyebut tentara maling tersebut tidak mengembalikannya sendiri melainkan disita setelah rumahnya digeledah dan laptop tersebut ditemukan.

Jaksa Militer menggambarkan tindakan tersebut sebagai tindakan yang memalukan. Secara tegas, jaksa itu mengatakan kalau pihak militer sangat tidak terima barang barang pribadi tentara dicuri dari pangkalan militer saat mereka fokus berperang. “Kita berbicara tentang insiden yang sangat serius, yang bertentangan dengan apa yang diharapkan dari petugas IDF dan nilai nilai IDF. Penuntut militer berhubungan dengan keluarga yang berduka dan akan terus memberikan informasi terbaru kepada mereka tentang setiap perkembangan, dan komputer dikembalikan kepada mereka setelah penyelidikan dibuka. IDF ikut merasakan kesedihan keluarga tersebut dan akan terus mendampingi mereka,” tulis pernyataan IDF.

Prancis Akan Kirim Puluhan Lapis Baja ke Tentara Lebanon, Taktik Lemahkan Hizbullah dari Dalam?

Prancis Akan Kirim Puluhan Lapis Baja ke Tentara Lebanon, Taktik Lemahkan Hizbullah dari Dalam?

Prancis Mau Kirim Puluhan Lapis Baja ke Tentara Lebanon, Taktik Lemahkan Hizbullah dari Dalam? Prancis dilaporkan berencana mengirim lusinan kendaraan lapis baja ke Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF). Rencana itu diucapkan Menteri Pertahanan Prancis Sebastien Lecornu dalam sebuah pernyataan pada Senin (6/11/2023).

Terkait pengiriman kendaraan lapis baja tersebut, Lecornu menekankan alasan pentingnya memperkuat tentara Lebanon agar lebih berkoordinasi dengan pasukan UNIFIL di selatan Lebanon. Pernyataan ini muncul ketika Hizbullah masih terlibat bentrokan bersenjata dengan tentara Israel di perbatasan selatan Lebanon. Hizbullah disebutkan masih melancarkan serangan setiap hari sejak pecah perang Israel Hamas pada 7 Oktober 2023 silam.

“Kami akan mengupayakan kemitraan kami dengan peralatan militer, terutama untuk pengangkutan pasukan yang dilindungi oleh armour , yang merupakan kunci untuk mempertahankan patroli,” katanya, seraya menambahkan kalau puluhan kendaraan militer akan segera dikirimkan ke LAF. Pesan Gubernur Kepri Ansar Ahmad di Batam Buat Wakapolri Komjen Agus Andrianto Jadwal Imsakiyah Magelang Besok 4 Februari 2024, Lengkap Jadwal Buka Puasa Hari Ini dan Resep Takjil

Jadwal Siaran Timnas U23 Indonesia vs Australia di Piala Asia U23 2024, Live RCTI dan SCTV INILAH Nama nama 7 Pejabat Administrator Pemko Medan yang Baru Dilantik Calon Pemenang Pilpres 2024 Mulai Terlihat Jelang Pencoblosan, 6 Hasil Survei Elektabilitas Terbaru Halaman all

Jadwal KM Labobar Februari 2024: Rute Palu Jayapura Berangkat dari Pantoloan Jumat 9 Februari 2024 Balai Rehabilitasi BNN Buka Lowongan Kerja 2024, Lulusan SMA/SMK Usia Maksimal 35 Tahun Boleh Daftar Nasib Nagita Slavina Dipenjarakan Ayah Kandung, Gideon Kantongi Bukti dan Saksi, Raffi: Doakan Saja Halaman 4

“Dukungan kami untuk tentara Lebanon adalah untuk jangka panjang, apapun kesulitan yang ada saat ini,” tambah menteri pertahanan Prancis tersebut. Dia juga mengatakan Perancis akan membuat program untuk menyediakan pasokan medis dengan harga terjangkau kepada tentara Lebanon. Perancis, menjadi satu di antara negara negara barat lainnya yang telah menyatakan dukungan terhadap Israel setelah Hamas meluncurkan Operasi Banjir Al Aqsa pada 7 Oktober, tanggal pecahnya perang Gaza Israel.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi Israel pada 24 Oktober untuk menyatakan “solidaritas” kepada Tel Aviv dalam perang melawan Hamas di Jalur Gaza. Selama kunjungan tersebut, Macron mengatakan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog kalau Prancis telah secara jelas memperingatkan Hizbullah melalui pesan langsung. Macron pada momen itu menyatakan Prancis juga sudah memberi peringatan terhadap kelompok milisi regional lainnya yang telah mengumumkan keterlibatan mereka dalam konflik Israel Hamas.

Kelompok milisi yang dimaksud Macron termasuk gerakan perlawanan Ansarallah (Houthi) di Yaman dan faksi faksi yang didukung Iran di Irak dalam perang tersebut. "Saya memperingatkan Iran, saya memperingatkan Hizbullah, saya memperingatkan Houthi. Jangan mengambil risiko menyerang Israel. Jika Anda melakukannya, akan terjadi konfrontasi regional, dan Anda akan menderita karenanya. Anda harus melakukan segalanya untuk menghindari hal ini menjadi lebih banyak air mata,” kata presiden Prancis saat itu. Milisi perlawanan Lebanon terus melancarkan serangan setiap hari terhadap lokasi lokasi di perbatasan Israel sejak pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyampaikan pidato pada 3 November.

Itu menjadi kemunculan pertamanya di publik sejak pecahnya perang Hamas Israel. Pidatonya tersebut dinilai akan menjadi sinyalemen sikap Hizbullah terhadap situasi perang Gaza. Dalam pidatonya, Nasrallah memperingatkan kalau kelompoknya akan melanjutkan operasinya melawan Israel di perbatasan dan menyebut Tel Aviv akan menanggung akibatnya jika memilih untuk melanggar “aturan keterlibatan” dengan meningkatkan serangannya ke wilayah Lebanon. Terlepas dari peringatan tersebut, serangan pesawat tak berawak Israel menewaskan beberapa warga sipil di Lebanon selatan pada tanggal 5 November, termasuk anak anak.

Hizbullah membalas dengan dua serangan roket ke pemukiman Israel di Kiryat Shmona. Seorang warga Israel tewas di dekat Kiryat Shmona akibat tembakan rudal anti tank dari Lebanon pada malam sebelumnya, menurut militer Israel. Rencana puluhan lapis baja Prancis ke LAF ini dinilai menjadi ancaman tersendiri bagi Hizbullah.

Meski berstatus bukan sebagai tentara negara, Hizbullah secara de facto memiliki kekuatan militer sebanding bahkan melebihi LAF. Carnegie Middle East Center dalam sebuah ulasannya menyebut di Lebanon, terdapat dualisme kepemimpinan militer di Lebanon yang bermuara pada LAF dan Hizbullah. Sebagai aktor militer non negara, Hizbullah memiliki struktur organisasi kompleks yang tersusun secara sistematis, termasuk mencakup aspek politik, di parlemen dan pemerintahan Lebanon.

"Dualisme militer ini bertahan selama hampir tiga puluh tahun, di mana LAF dan Hizbullah secara bersamaan menikmati tingkat legitimasi dan hidup bersama meskipun alasan keberadaan dan arah perkembangan mereka berbeda. Namun, ketika mereka berevolusi dan memperluas peran dan hak prerogatif keamanan nasional mereka di Lebanon pasca Suriah, dualisme militer menjadi semakin rapuh karena perselisihan baru antara LAF dan Hizbullah berubah menjadi warna baru lanskap keamanan nasional Lebanon," tulis lembaga analis Timur Tengah tersebut. Lembaga analis lain, CSIS International Studies menyebut, Hizbullah memiliki tiga keunggulan utama dibandingkan LAF dan negara Lebanon. "Hizbullah memiliki kesatuan komando yang lengkap dan koheren, kemauan untuk bertindak tegas, dan kemampuan yang tak tertandingi dalam membentuk narasi dan gambaran tindakannya," tulis ulasan lembaga tersebut.

Pun begitu, bala bantuan lapis baja Prancis ke LAF bisa jadi dianggap langkah provokatif yang membuat Hizbullah waspada terhadap 'rekan senegara' mereka sendiri. Jika friksi membesar, Hizbullah justru akan memiliki dua front pertempuran, terhadap Israel dan LAF. Menghadapi dua perang jelas sedikit banyak melemahkan kekuatan Hizbullah sendiri.

Persenjataan Berlimpah Hamas: Faktor Iran, Terowongan Rahasia, Hingga Pabrik Rudal Lokal

Persenjataan Berlimpah Hamas: Faktor Iran, Terowongan Rahasia, Hingga Pabrik Rudal Lokal

Persenjataan Berlimpah Hamas: Faktor Iran, Terowongan Rahasia, Hingga Pabrik Rudal Lokal Serangan pejuang Hamas Palestina pada Sabtu (7/10/2023) ke wilayah pendudukan Israel, rupanya membuat banyak pihak Israel dan para sekutu Baratnya sangat kaget. Baik Israel maupun sekutunya, terutama Amerika Serikat, seolah sangat penasaran setengah mati, dari mana dan bagaimana Hamas menyiapkan persenjataan dalam menyerang dalam format terkoordinir di 20 titik di wilayah pendudukan Israel.

Brad Lendon, penulis senior urusan militer global CNN, mengulas rasa penasaran itu dalam laporannya dengan menyimpulkan kalau serangan Hamas itu tercipta dari perpaduan antara improvisasi, kecerdikan, dan dermawan utama dari luar Palestina. Lendon menggarisbawahi, seranganHamas di wilayah pendudukan Israel akhir pekan lalu tersebut melibatkan ribuan roket dan rudal, drone yang menjatuhkan bahan peledak, serta senjata ringan dan amunisi yang tak terhitung jumlahnya. Menariknya, serangan itu diluncurkan dari daerah kantong Gaza yang dikuasai Hamas, wilayah pesisir Mediterania seluas 140 mil persegi (360 kilometer persegi) yang kedua sisinya berbatasan dengan Israel dan satu sisi lagi dengan Mesir.

"Daerah ini miskin, padat penduduk, dan memiliki sedikit sumber daya," kata dia dalam ulasannya yang menekankan kondisi miris yang terjadi di Gaza. Persenjataan Berlimpah Hamas: Faktor Iran, Terowongan Rahasia, Hingga Pabrik Rudal Lokal Jadwal Kapal KM Dobonsolo Terbaru Januari Februari 2024: Terdekat Berlayar ke Sorong

Calon Pemenang Pilpres 2024 Mulai Terlihat Jelang Pencoblosan, 6 Hasil Survei Elektabilitas Terbaru Halaman all Jadwal Kapal KM Dobonsolo Terbaru Januari Februari 2024: Terdekat Berlayar ke Surabaya Jadwal Kapal Pelni KM Awu Januari Februari 2024, Besok Denpasar Bima, Rute Terakhir Surabaya Kumai

Nasib Nagita Slavina Dipenjarakan Ayah Kandung, Gideon Kantongi Bukti dan Saksi, Raffi: Doakan Saja Halaman 4 Catatan lain yang menarik dari Gaza dalam ulasan Lendon, wilayah ini hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar selama hampir 17 tahun, ketika Hamas mengambil alih kekuasaan, sehingga mendorong Israel dan Mesir untuk melakukan pengepungan ketat terhadap wilayah tersebut, yang hingga saat ini masih berlangsung. Dia juga menyebut, Israel juga mempertahankan blokade udara dan laut di Gaza serta melakukan serangkaian pengawasan.

Dengan isolasi begitu totalnya bagi Gaza, bagaimana Hamas mengumpulkan persenjataan dalam jumlah besar? "Jawabannya, menurut para ahli, adalah melalui kombinasi tipu muslihat, improvisasi, kegigihan, dan dermawan penting dari luar negeri," kata Lendon. Sejumlah asumsi liar sempat berkembang terkait dari mana Hamas dapat senjata.

Mulai dari keterlibatan Rusia, penjualan bantuan senjata yang diperoleh Ukraina di pasar gelap, hingga sejumlah penyelundupan dari Lebanon. Namun, dalam analisisnya, Brad Lendon menyertakan Iran sebagai faktor determinan persenjataan Hamas dengan mengutip penjelasan dari intelijen AS, CIA. “Hamas memperoleh senjatanya melalui penyelundupan atau konstruksi lokal dan menerima sejumlah dukungan militer dari Iran,” menurut World Factbook milik CIA.

Dia menjelaskan, meskipun pemerintah Israel dan AS belum menemukan peran langsung Iran dalam serangan akhir pekan lalu, para ahli mengatakan Iran telah lama menjadi pendukung utama militer Hamas. Peran Iran dalam dukungan terhadap Hamas, kata dia, adalah menyelundupkan senjata ke wilayah kantong Gaza tersebut melalui terowongan rahasia lintas batas atau kapal yang lolos dari blokade di perairan Mediterania. Ulasan Lendon ini menyertakan sejumlah keterangan terkait sebagai berikut:

“Infrastruktur terowongan Hamas masih sangat besar meskipun Israel dan Mesir terus menerus merusaknya,” kata Bilal Saab, peneliti senior dan direktur Program Pertahanan dan Keamanan di Middle East Institute (MEI) di Washington. “Hamas telah menerima senjata dari Iran yang diselundupkan ke Jalur (Gaza) melalui terowongan. Hal ini sering kali mencakup sistem jangka panjang,” kata Daniel Byman, peneliti senior di Proyek Ancaman Transnasional di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS). “Iran juga telah mengirimkan… rudal balistiknya yang lebih canggih kepada Hamas melalui laut, dalam bentuk komponen untuk pembangunan di Gaza,” kata Charles Lister, peneliti senior di MEI.

Selain sebagai penyuplai, Iran juga berperan menjadi mentor bagi Hamas. "Iran juga membantu Hamas dengan manufaktur dalam negeri, sehingga memungkinkan Hamas membuat persenjataannya sendiri,” kata Byman di CSIS. Seorang pejabat senior Hamas yang berbasis di Lebanon memberikan rincian tentang pembuatan senjata Hamas dalam wawancara dengan, RTArabic , yang diterbitkan di situs web mereka pada Minggu (8/10/2023).

“Kami memiliki pabrik lokal untuk segala hal, untuk roket dengan jangkauan 250 km, 160 km, 80 km, dan 10 km. Kami memiliki pabrik mortir dan pelurunya. … Kami memiliki pabrik untuk Kalashnikov (senapan) dan pelurunya. Kami memproduksi peluru tersebut dengan izin dari Rusia. Kami sedang membangunnya di Gaza,” kata Ali Baraka, kepala Hubungan Nasional Hamas di Luar Negeri, seperti dikutip dari RTArabic . Charles Lister, pneliti MEI menjelaskan, untuk item yang lebih besar, Korps Garda Revolusi Islam Iran, sebuah divisi militer Iran yang bertanggung jawab langsung kepada pemimpin tertinggi negara itu, telah memberikan pelatihan senjata kepada para insinyur Hamas selama hampir dua dekade. “Bertahun tahun memiliki akses terhadap sistem yang lebih maju telah memberikan para insinyur Hamas pengetahuan yang diperlukan untuk secara signifikan meningkatkan kapasitas produksi dalam negerinya,” kata Lister.

"Teheran terus memperbarui pelatihan para pembuat senjata Hamas," tambahnya. “Para insinyur roket dan rudal Hamas adalah bagian dari jaringan regional Iran, sehingga seringnya pelatihan dan pertukaran di Iran sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya Iran untuk memprofesionalkan pasukan proksinya di seluruh wilayah,” kata Lister. Namun cara Hamas mendapatkan bahan mentah untuk senjata buatan dalam negeri juga menunjukkan kelihaian dan kecerdikan kelompok tersebut.

Gaza tidak memiliki industri berat yang dapat mendukung produksi senjata di sebagian besar dunia. Menurut CIA Factbook, industri utamanya adalah tekstil, pengolahan makanan, dan furnitur. Namun ekspor utamanya adalah besi tua, yang dapat menjadi bahan pembuatan senjata di jaringan terowongan di bawah wilayah kantong tersebut.

Menurut Ahmed Fouad Alkhatib, yang menulis tentang logam tersebut untuk Forum Fikra di Washington Institute for Near East Policy pada tahun 2021, besi danlogam tersebut dalam banyak kasus berasal dari pertempuran destruktif sebelumnya di Gaza. "Ketika infrastruktur Gaza hancur akibat serangan udara Israel, apa yang tersisa – lembaran logam dan pipa logam, besi baja, kabel listrik – telah masuk ke bengkel senjata Hamas, muncul dalam bentuk tabung roket atau alat peledak lainnya," tulisnya. Mendaur ulang amunisi Israel yang tidak meledak untuk dijadikan bahan peledak dan komponen lainnya menambah rantai pasokan Hamas, kata Alkhatib.

“Operasi IDF secara tidak langsung memberi Hamas materi yang diawasi secara ketat atau dilarang sama sekali di Gaza,” tulisnya. Dalam ulasannya dengan menyertakan keterangan para ahli di atas, Brad Lendon menambahkan penekanan kalau upaya Hamas itu tidak terjadi dalam semalam. "Untuk menembakkan amunisi sebanyak yang mereka lakukan pada hari Sabtu dalam jangka waktu yang singkat berarti Hamas telah membangun persenjataannya, baik melalui penyelundupan maupun manufaktur, dalam jangka panjang," kata Aaron Pilkington, seorang analis Angkatan Udara AS untuk urusan Timur Tengah dan Israel. Kandidat PhD di Universitas Denver.

Baraka, pejabat Hamas di Lebanon, mengatakan kelompok militan tersebut telah mempersiapkan serangan akhir pekan lalu selama dua tahun. Dia tidak menyebutkan keterlibatan pihak luar dalam perencanaan serangan tersebut, dan hanya mengatakan dalam laporan media Rusia bahwa sekutu Hamas “mendukung kami dengan senjata dan uang. Yang pertama dan terpenting, Iranlah yang memberi kami uang dan senjata.” Para analis juga mengatakan besarnya dan cakupan serangan Hamas terhadap Israel membuat mereka – serta badan intelijen Israel dan negara negara lain – lengah.

“Penting untuk diingat bahwa menembakkan sejumlah roket sebenarnya sangat mudah,” kata Pilkington. “Apa yang mengejutkan, … adalah bagaimana Anda bisa menimbun, memindahkan, menyiapkan, dan menembakkan ribuan roket sambil menghindari intelijen Israel, Mesir, Saudi, dll. Sulit untuk melihat bagaimana militan Palestina bisa melakukan hal ini tanpa panduan Iran," kata dia.